Thoriq Aziz, S. Pd., Lc.

http://selaluvokalberdakwah.blogspot.com.eg/, Saya menimba ilmu dari guru kami yang mulia, Al-Imam Yusuf Al-Qaradawi, bahwa politik adalah tulang punggung agama (السياسة من صلب الدين), itulah yang menjadi keyakinan dan motivasi saya bergerak di politik.

Sungguh, politik itu mengkontrol berbagai atau hampir semua aspek kehidupan masyarakat, termasuk kegiatan ekonomi, bisnis, akses sosial, pendidikan, kesehatan dan sumber daya lainnya yang mendasar. Sehingga politik amat sangat penting dalam mengatur prosedur dan segala kebijakan jangka panjang, supaya terbentuk kehidupan masyarakat yang damai, cerdas, sejahtera, adil dan makmur.

Banyak negara di belahan dunia ini, yang berusaha mendidik warganya supaya menyadari arti penting politik dalam proses penyelenggaraan sebuah pemerintahan. Semisal lewat jalur pendidikan, mereka mengkampanyekan secara bertubi-tubi kegiatan, aksi melek politik, political literacy, kepada seluruh elemen masyarakat. Sehingga tingkat kepuasan masyarakat semakin tinggi terhadap kebijakan-kebijakan publik yang telah dibuat, karena mereka ikut serta secara langsung maupun tidak langsung dalam praktik politik, dan mereka juga sangat menikmati representasi yang lebih besar dari pejabat-pejabat publik yang telah mereka pilih sendiri, sekaligus menjalankan fungsi kontrol dan kritik.

Dengan menggunakan cara berpikir yang sangat sederhana, pemuda sekarang ini akan menjadi penerus dan pengendali negara di masa-masa mendatang. Pemilik masa depan sebuah bangsa dan negara adalah generasi mudanya. Nah, jika pemilik masa depan tidak merasa memiliki kepedulian dan tanggung jawab terhadap nasib politik bangsanya, bahkan kemudian apatis, maka bangsa tersebut akan sangat banyak memprihatinkan.

Ada semacam pertanda jebakan moral politik, ada sebagian anak-anak bangsa, generasi tunas bangsa Indonesia yang merasa galau bahkan marah terhadap perkembangan dan kondisi politik yang ada di Indonesia. Hal itu boleh jadi karena elit-elit petinggi bangsa terbukti banyak melakukan praktik korupsi, manipulasi, banyak yang melanggar ideologi dan konstitusi negera, banyak membuat hal-hal yang mengecewakan, yang jauh dari harapan, kemudian mereka lantas jengkel dan mengatakan, oke mulai dari sekarang saya akan berhenti ikut campur dari kehidupan politik.

Fenomena seperti ini bagian dari dilema moral politik yang harus segera disembuhkan. Caranya ialah dengan mengembalikan kepercayaan publik kaula muda sebagai generasi penerus bangsa terhadap perkembangan politik bangsanya, dengan memperlihatkan kans elit-elit petinggi bangsa yang menunjukkan perubahan moral politiknya yang terpuji.

Jika kita mau mengambil pelajaran dari fenomena sebagian generasi muda yang mulai apatis dan tidak peduli dengan kondisi politik bangsa, ini adalah sebuah warning buat para pemimpin negeri ini supaya tidak semaunya sendiri.


-Thoriq Aziz-,